Pengertian dan Cara Kerja Flasher pada kendaraan Mobil/Motor beserta gambarnya
Flasher atau juga bisa di sebut turn signal adalah komponen yang berfungsi sebagai penyuplai arus listrik ke lampu sein agar bisa menyala dan terlihat berkedip. Tujuannya agar si pengendara tersebut memberitahu ke pengendara lainnya bahwa dia akan mau berbelok ke kiri ataupun ke kanan tergantung lampu sein mana yang dihidupkan. Setelah mengetahui pengertian dan fungsi dari flasher. Berikut ini adalah cara kerja dari flasher tersebut.
Cara Kerja Flasher
flasher pada kendaraan mobil/motor memiliki cara kerja. Sebelum kita menuju ke penjelasan tentang cara kerja dari flasher, kita akan menjelaskan keterangan dari komponen pada rangkaian flasher.
Flasher jenis ini lebih banyak digunakan pada kendaraan mobil tipe lama atau motor. Cara kerja dari flasher jenis ini pada kendaraan mobil/motor tipe paling mudah di mengerti untuk dipelajari. Perhatikanlah gambar di berikut ini beserta penjelasannya.
Keterangan gambar.
B : Terminal B pada flasher (pin pada flasher dari battery melalui kunci kontak).
P : Contact point.
R : Resistor.
L1 : Kumparan tembaga/coil no. 1.
L2 : Kumparan tembaga/coil no. 2.
C : Capasitor.
Ground : pin yang terhubung pada massa / ground pada chassis.
L : Terminal L (pin yang dari lilitan tembaga/coil menuju saklar sein atau hazard).
Turn signal switch : Saklar lampu sein.
F1/F'1 : Lampu sein kiri depan dan belakang.
PL 1 : Lampu indikator sein kiri di dashboard.
F2/F'2 : Lampu sein kanan depan dan belakang.
PL 2 : Lampu indikator sein kanan di dashboard.
Saat kunci kontak/ignition switch dalam posisi ON. Dan saklar lampu sein/turn signal switch masih pada posisi OFF, maka arus listrik akan mengalir dari pin B (terminal battery) menuju ke contact point (P) kemudian menuju capasitor untuk mengisi capasitor.
Setelah saklar lampu sein/turn signal switch diarahkan kekiri atau pada posisi (ON), arus listrik akan mengalir menuju ke (L1) kemudian menuju pin (L) lalu menuju ke lampu sein (F1/F'1) sehingga lampu menyala. Di saat bersamaan kumparan tembaga/coil (L1) dan juga (L2) timbul kemagnet.
Sesaat setelah kumparan tembaga/coil (L1) dan (L2) menjadi magnet, contact point (P) akan tertarik ke batang besi sehingga contact point (P) dalam posisi terbuka.
Saat contact point (P) terbuka/open circuit, arus listrik akan mengalir melewati resistor (R) karena resistor merupakan sebuah tahanan, maka arus listrik menjadi lebih kecil. Akibatnya, lampu sein (F1/F'1) menjadi padam.
Ketika lampu sein (F1/F'1) padam yang diakibatkan contact point (P) dalam posisi terbuka/open circuit, daya magnet pada kumparan tembaga/coil (L1) dan (L2) menjadi lemah karena hanya bergantung pada muatan listrik yang ada dalam capasitor (C). Setelah muatan listrik dalam capasitor (C) habis, kemagnetan pada kumparan hilang dan contact point(P) akan tertutup/terhubung kembali/close circuit.
Setelah contact point (P) terhubung kembali maka, arus listrik yang dari battery/aki mengali menuju ke lampu sein sehingga lampu akan menyala dan pengisian muatan listrik ke dalam Capasitor (C) terjadi kembali. Dan siklus ini akan terus berulang hingga saklar lampu sein/turn signal switch di matikan atau di posisikan OFF.




